Pemotongan dana oleh USAID telah memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai organisasi non-pemerintah (NGO) internasional, termasuk Mercy Corps, Danish Refugee Council (DRC), Norwegian Refugee Council (NRC), dan Norwegian People’s Aid (NPA). Langkah ini tidak hanya berdampak pada ribuan pekerja kemanusiaan, tetapi juga pada jutaan orang yang bergantung pada bantuan yang disalurkan oleh organisasi-organisasi tersebut.
Mercy Corps, sebuah NGO yang mendapatkan 26% pendanaannya dari USAID, baru-baru ini mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja. Meskipun belum ada rincian spesifik mengenai jumlah karyawan yang akan terdampak atau proyek mana yang akan terpengaruh, keputusan ini mencerminkan dampak besar dari pembekuan dana USAID selama 90 hari oleh pemerintahan Trump.
Mercy Corps bukan satu-satunya organisasi yang terdampak. Beberapa NGO besar lainnya juga menghadapi situasi serupa:
Danish Refugee Council (DRC), DRC mengumumkan pada 7 Februari bahwa mereka akan memangkas sekitar 2.000 pekerjaan, atau sekitar 25% dari total tenaga kerjanya. Pada tahun 2023, DRC menerima sekitar $70 juta dari USAID, yang setara dengan 14% dari total anggaran mereka sebesar $500 juta.
Norwegian People’s Aid (NPA), NPA menyatakan pada 11 Februari bahwa lebih dari separuh tenaga kerjanya akan diberhentikan.
Norwegian Refugee Council (NRC), NRC juga mengumumkan rencana PHK, meskipun belum memberikan angka pasti. NRC menerima sekitar $150 juta dari USAID pada tahun 2024, yang mencakup hampir 20% dari anggaran mereka. Proyek-proyek penting seperti layanan untuk perempuan dan anak perempuan di Afghanistan serta subsidi roti di Darfur, Sudan, kini terancam.
Democracy International, organisasi ini, yang berfokus pada mendukung pemilu demokratis, telah memberhentikan seluruh 95 karyawan berbasis di AS dan menempatkan 92% dari 176 staf internasionalnya pada cuti tanpa dibayar.
Pemotongan dana ini tidak hanya memengaruhi ribuan pekerja kemanusiaan, tetapi juga komunitas yang sangat bergantung pada bantuan dari organisasi-organisasi ini. Misalnya, NRC yang mendukung hampir 500 toko roti di Darfur kini harus menarik stafnya, meninggalkan ribuan orang tanpa akses ke makanan bersubsidi. Di Afghanistan, layanan penting untuk perempuan dan anak perempuan juga terancam dihentikan.
Banyak organisasi kemanusiaan, termasuk yang berbasis pada kepercayaan seperti Catholic Relief Services, memperkirakan pengurangan tenaga kerja hingga 50%. Hal ini akan semakin memperburuk situasi di negara-negara yang sudah menghadapi krisis kemanusiaan.
Keputusan pemerintahan Trump untuk membekukan dana USAID telah menuai kritik tajam. Beberapa pihak bahkan mengajukan gugatan hukum, menuduh bahwa langkah ini melanggar konstitusi dan harus segera dibatalkan. Namun, meskipun pembekuan dana ini dicabut, dampaknya akan tetap dirasakan dalam jangka panjang. Ratusan ribu orang yang sebelumnya menerima bantuan dari pendanaan kemanusiaan AS akan tetap berada dalam kondisi rentan.
Pemotongan dana USAID telah menciptakan krisis besar bagi NGO internasional dan komunitas yang mereka layani. Dengan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan dan jutaan orang kehilangan akses ke bantuan vital, situasi ini menunjukkan betapa pentingnya pendanaan kemanusiaan yang stabil dan berkelanjutan. Pemerintah dan masyarakat internasional perlu segera mengambil langkah untuk mengatasi dampak ini dan memastikan bahwa bantuan kemanusiaan dapat terus menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Leave a Reply